Tuesday, March 17, 2009

SEJARAH AHLUL BAIT"Fatimah adalah bagian dariku, siapa yang menyakitinya berarti menyakitiku,(HADIS NABI SAW)

""Fatimah adalah bagian dariku, siapa yang menyakitinya berarti menyakitiku, siapa yang membuatnya gembira maka ia telah membahagiakanku." (Al Hadis)."Walaupun demikian,"jika anakku Fatimah mencuri, aku akan potong tangannya" (Al Hadits)Bahkan terhadap anak kesayangannya saja Rasulullah bersedia berlaku adil, apalagi terhadap Habib Riziq.Kebersambungan kepada Rasulullah itu bukan membuat habib-habib menjadi memiliki priviledge, namun malah merupakan tanggung jawab. Ahlul bait bahkan alih-alih mendapatkan bagian dari harta rampasan perang, malah diharamkan mendapatkan harta rampasan perang, padahal Rasulullah itu pemimpin negara. ----- Original Message ----- From: Mohammad Rizal To: wanita-muslimah@yahoogroups.com Sent: Monday, August 04, 2008 8:52 AM Subject: Re: [wanita-muslimah] Di Indonesia ada 1,2 juta Habib, termasuk Habib Rizik Syihab Secara umum, seluruh keturunan Rasulullah saw. banyak digelari Syarif (kebanyakan keturunan Sayidina Hassan bin 'Ali bin Abi Thalib), dan Sayid/Habib (kebanyakan keturunan Sayidina Hussain bin 'Ali bin Abi Thalib). Gelar Syarif/Sayid/Habib ini bukannya satu gelaran yang kaku. Terkadang, keturunan Sayidina Hassan pun dipanggil Sayid. Keturunan Sayidina Hassan banyak. Ada kitab yang khusus membicarakan keturunan Sayidina Hassan dan Sayidina Hussain yang menjadi raja. Keturunan Sayidina Hassan di antaranya menjadi raja-raja di Marokko (dinasti Idrisiyah), Imam-imam di Maghribi Selatan, dan raja-raja (syarif-syarif Mekkah), dimulai dari Syarif Qitadah pada sekitar abad 12 M hingga Syarif Mekkah terakhir, Syarif Hussain yang dikudeta oleh kepala suku bani saud dari Nejed, Abdul Aziz Al Saud pada 1925 yang berpahaman wahabi. Syarif Hussain menyingkir ke Jordan dan cucunya adalah Raja Hussain dari Jordan yang sekarang dilanjutkan anaknya, Raja Abdullah. Anak Syarif Hussain yang lain menjadi raja di Iraq hingga dikudeta pada tahun 1950-an dan Iraq menjadi republik. Salah satu ulama besar keturunan Sayidina Hassan adalah Syeikh Abdul Qadir al Jilani yang bermukim di Iraq. Beliau adalah pengasas Thariqat Qadiriyah yang banyak pengikutnya di timur tengah, afrika, dan tanah melayu. Di antara keturunan beliau yang menjadi kepala negara adalah Syeikh Muhammad Al Sanusi, pengasas Thariqat Sanusiyah. Beliaulah yang mula-mula mempersatukan seluruh suku nomaden di Libya. Beliau sendiri belum memakai gelar raja. Cucunyalah yang diangkat sebagai raja Libya pertama. Cucu beliau ini kemudian dikudeta oleh Muammar Qaddafi yang menjadi pemimpin Libya hingga saat ini. Salah satu keturunan Sayidina Hassan adalah Sultan Brunei sekarang, Sultan Hassanal Bolkiah yang merupakan keturunan dari Syarif Ahmad, Syarif Mekkah. Berbeda dengan Sayidina Hassan, keturunan Sayidina Hussain hanya berasal dari seorang anaknya, yaitu Sayid 'Ali bin Hussain yang digelari Zainal 'Abidin. Seluruh keluarga Sayidina Hussain syahid di Padang Karbala. 'Ali Zainal 'Abidin ini memiliki putera yang bernama Muhammad yang digelari Al Baqir. Muhammad Al Baqir ini masih sempat bertemu dengan seorang Sahabat Rasulullah, yaitu Sayidina Jabir bin Abdullah ra. Salah seorang putera dari Sayid Muhammad Al Baqir adalah Imam Ja'far Ash Shadiq yang menjadi ulama besar pada masanya. Beliau adalah seorang mujtahid yang menjadi rujukan ulama-ulama Islam ketika itu. Imam Syafi'i sendiri banyak mendalami mazhab fiqih yang disusun oleh Imam Ja'far Ash Shadiq. Salah seorang keturunan beliau, Imam Ahmad Al Muhajir berhijrah dari Iraq ke Madinah, kemudian terus ke Hadramaut. Keturunan beliau di Hadramaut inilah yang menurunkan para Habaib di seluruh dunia. Di antara keturunan beliau yang besar adalah Sayid Muhammad Shahibul Mirbath yang menurunkan banyak wali-wali ALLAH (termasuk walisongo) dan sultan-sultan di Nusantara. Cucu beliau, Imam Muhammad Al Faqih Al Muqaddam adalah pengasas Thariqat 'Alawiyah yang bermukim di Tarim, Hadramaut. Para Habaib di Nusantara ini banyak yang mengamalkan Thariqat ini. Dari beliaulah lahirnya keluarga-keluarga besar habaib seperti Al Aiddarus (Alaidrus), As Saqqaf (Assegaf), Al Habsyi, Al Aththas (Alattas), Al Hadad, Basyaiban, Bilfaqih, dan lain-lain. Di antara zuriat Rasulullah saw. yang menjadi pengasas Thariqat adalah: Imam Abdul Qadir Al Jilani (Qadiriyah), Imam Ahmad Al Rifa'i (Rifa'iyah), Imam Ahmad Al Badawi (Badawiyah), Imam Abu Hassan Syadzili (Syadzaliyah), Imam Muhammad Al Sanusi (Sanusiyah), Imam Muhammad Al Faqih (Alawiyah), Imam Muhammad bin Abdullah As Suhaimi (Muhammadiah). Katakanlah: "Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan" (QS 42:23) Jadi, ALLAH dan Rasul saw. memang menyuruh kita menyayangi keluarga beliau. Di antara keluarga beliau mungkin ada kekurangan, sebab mereka manusia biasa. Tetapi sebagai adab pada Beliau saw., kita nasehati yang ada kekurangan tersebut dengan nasehat yang baik. Jangan kita caci atau hina, karena mereka adalah kesayangan Rasulullah saw. wallahua'lam -Rizal- --- On Sun, 8/3/08, mediacare <[EMAIL PROTECTED]> wrote: From: mediacare <[EMAIL PROTECTED]> Subject: [wanita-muslimah] Di Indonesia ada 1,2 juta Habib, termasuk Habib Rizik Syihab To: "zamanku" <[EMAIL PROTECTED]>, wanita-muslimah@yahoogroups.com, [EMAIL PROTECTED], "media jakarta" <[EMAIL PROTECTED]>, "pasar-minggu" <[EMAIL PROTECTED]>, [EMAIL PROTECTED] Date: Sunday, August 3, 2008, 4:12 PM Habib yang ada kaitannya dengan kelompok Sayid sering disebut-sebut. Siapakah mereka? Sumber: http://www.eramuslim.com/ustadz/dll/7b10184825-siapakah-haba039ib-atau-habib-.htm Assalamualaikum Pak Ustadz saya mohon anda bisa memberikan penjelasan tentang gelar habib atau haba'ib. 1. Benarkah Haba'ib atau habib (Saripah = untuk wanita) itu merupakan keturunan Rasulullah seperti yang selama ini pernah saya dengar? 2. Masyarakat di daerah saya sangat mengkultuskan seorang haba'ib. Mereka menaruh hormat sekali pada orang yang bergelar haba'ib. Misalnya tidak boleh berbicara yang tidak baik, bahkan membantah pada haba'ib, nanti bisa kualat. Atau berebut mencium tangan atau memeluknya agar mendapatkan barokah. 3. Mereka juga percaya bahwa seorang habib itu telah dijamin surga oleh Allah SWT. Benarkah demikian? Sebelumnya, saya ucapkan terimakasih atas perhatian anda. Semoga Allah memberikan rahmat dan karunia-Nya. Amin Wassalamualaikum Yana Jawaban Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Dari semua informasi tentang habib yang anda sebutkan, yang sudah pasti salah dan batil adalah yang terakhir, yaitu kepastian bahwa setiap habib pasti masuk surga. Kepercayaan ini batil dan sanat fatal kalau sampai dijadikan keyakinan. Karena dalam aqidah ahlusunnah wal jamaah, yang makshum dan pasti masuk surga hanya nabi dan rasul saja. Karena para nabi dan rasul mendapat wahyu dari Allah SWT serta penjagaan ilahiyah, yang akan menjadi pengonntrol apabila akan melakukan kesalahan. Sedangkan keluarga nabi baik isteri beliau maupun anak dan menantunya tidak mendapat wahyu, maka tidak mendapatkan penjagaan ilahiyah. Maka mereka tidak makshum. Dan karena tidak makshum, maka tidak ada jaminan untuk masuk surga. Kecuali Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu yang secara pribadi, bukan anak keturunannya, telah dikabarkan oleh Rasulullah SAW sebagai salah satu dari 10 orang shahabat yang dib eri kabar gembira akan masuk surga. Menghormati Ahlul Bait Menghormati dan memuliakan ahlul bait, memang tidak salah bahkan diperintahkan oleh Al-Quran. Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ta'atilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya. (QS. Al-Ahzab: 33) Namun yang menjadi masalah, siapakah yang dimaksud dengan ahlul bait? Apakah isteri-isteri nabi ataukah Ali, Fatimah, Hasan, Husein dan anak keturunannya? Kalau kita baca ayat di atas, lafadz ayat itu ditujukan kepada isteri-isteri nabi SAW. Mereka diminta untuk menetap di dalam rumah, tidak berhias, shalat, zakat dan mentaati Allah dan Rasul-Nya. Lalu apakah para habaib itu termasuk ahlul bait? Ada sekian banyak versi jawaban. Ada yang membenarkan dan ada juga yang menolaknya. Buat mereka yang membenarkan, maka para habaib dan syarifah itu kemudian diperlakukan sedemikian rupa, yang intinya ingin memberikan penghormatan. Bahkan terkadang sampai terlewat lalu mengklaim merekasebagai makshum dijamin masuk surga. Kalau sekedar menghormati dalam arti mencium tangan dan memuliakannya dengan memberi hadiah, rasanya masih bisa ditolelir. Karena untuk budaya sebagian masyarakat tertentu, mencium tangan orang dimuliakan memang sering kita lihat. Lagian tidak ada nash yang melarang kita mencium tangan orang yang kita muliakan dan kita cintai. Akan tetapi kalau sudah sampai mengkultuskan habaib dan syarifah, seolah-olah mereka itu tidak mungkin melakukan dosa dan pasti masuk surga, maka cara berpikir seperti ini sesat dan menyesatkan. Dan para habaib sendiri juga menentang cara berpikir seperti ini. Habaib dan Betawi Budaya memuliakan para habaib akan lebih terasa di kalangan betawi. Sampai bekas minum mereka pun dianggap ada keberkahkahannya. Bagaimana hal itu bisa terjadi? Penyebabnya sederhana saja. Sejak dahulu orang betawi punya pola hidup yang agak berbeda dengan suku lain. Mereka sangat dekat dengan ajaran Islam dan para pengajar agama. Kebetulan di masa lalu, para pengajar agama adalah para habaib itu. Masjid Kwitang dan madrasah Jamiat Khair Tenabang adalah situs yang bisa disebut sebagai sumber pengajaran agama Islam bagi orang betawi. Dan keduanya dipimpin oleh para habaib. Jadi ketika orang betawi mencium tangan habib bolak-balik, mereka sedang menghormati guru mereka. Karena berkat guru itulah mereka jadi kenal agama Islam. Dan ajaran menghormati guru memang sangat kuat dan lekat. Pola pandang seperti ini sebenarnya sah-sah saja. Di mana-mana murid memang harus hormat dan memuliakan gurunya. Yang jadi masalah adalah kesalah-kaprahan orang di zaman sekarang yang memandang semua habib pasti orang berilmu dan berhak menjadi guru. Yang benar adalah bahwa sebagian dari habaib itu memang ada yang punya ilmu agama yang luas dan mendalam, tetapi sebagian besarnya justru tidak pernah belajar agama. Mereka adalah orang bodoh yang tidak punya ilmu tapi mengandalkan kehabiban dan keawaman umat saja. Akibatnya, banyak umat yang terkecoh dengan masalah ini. Maka bila seorang habib memang ahli dalam ilmu syariah, katakanlah doktor di bidang ilmu syariah, atau ilmu hadits, atau ilmu tafsir, punya karya yang banyak, wajar bila kita hormati beliau dan kita muliakan. Ekspresi rasa hormat pun tidak harus dengan cara-cara yang aneh, seperti minum dari gelas bekas minumnya. Atau mencium tangannya bolak-balik. Tapi hormatilah mereka sebagaimana umumnya kita menghormati para ustadz, guru dan ahli agama. Habib di Wikipedia Kalau kita buka wikipedia, kita akan menemukan informasi bahwa Indonesia merupakan negeri muslim terbanyak yang terdapat habib yaitu sebanyak 2 juta, sedangkan yang masih hidup 1, 2 juta. Sementara di seluruh dunia tercatat 20 juta habib (muhibbin) yang terbagi 114 marga. Hanya keturunan laki-laki saja yang berhak menyandang gelar habib. Organisasi yang melakukan pencatatan para habib ini adalah ar-Rabithah yang semula berpusat di Hadramaut, tempat di mana 80 keluarga habib semula berhijrah dari kota Mekah. Sekarang ar-Rabithah telah memindahkan pusat kegiatannya di Tanah Abang, Jakarta, karena Indonesia, negara yang terbanyak memiliki para habib. Salah satu di antara pengurusnya adalah Habib Rizik Syihab, pimpinan FPI (Front Pembela Islam). Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Ahmad Sarwat, Lc